Penyebab burung “membisu”

Posted by Duto Sri Cahyono ⋅ 25/02/2010 pukul 13:32 ⋅ 193 Komentar

Filed Under  burung ngeriwik, burung sakit, burung tidak gacor, featured, perawatan umum, REFERENSI BURUNG

Banyak sekali pertanyaan tentang mengapa burung cuma ngeriwik, atau bunyi cuma pagi hari, atau hanya gacor kalau di rumah tetapi tidak gacor di lapangan, atau sebaliknya cuma gacor di lapangan tetapi tidak gacor di rumah.

Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa burung apapun yang gacor dalam “segala cuaca” adalah burung yang tidak sakit secara fisik ataupun mental. Berikut ini saya sebutkan sejumlah kondisi burung yang hanya ngeriwik atau hanya bunyi pada waktu dan tempat tertentu.

1. Burung hanya ngeriwik terus.
Burung yang hanya ngeriwik biasanya adalah:
= Burung tua atau pun muda terutama tangkapan hutan. Sebab, meski muda, burung hasil tangkaran biasanya mau gacor. Mengapa? Burung hasil tangkaran besar di lingkungan manusia dan karenanya dia tidak ada kendala takut kepada manusia dan lingkungannya. Sedangkan burung tangkapan hutan, perlu penyesuaian yang lama dengan lingkungan manusia. Dia harus melalui proses penjinakan sehingga cepat beradaptasi.

Kalau Anda memelihara burung tangkapan hutan, kadang perlu waktu berbulan-bulan untuk membuat dia tidak takut lagi dengan manusia. Biasanya, setelah masa mabung barulah dia bisa beradaptasi. Syaratnya, selama waktu itu pula dia ditempatkan di tempat yang relatif ramai, dekat orang rumah berlalu lalang.

Jadi Anda jangan terlalu berharap bahwa burung hasil tangkapan hutan mau gacor dalam waktu singkat sekitar 1-2 bulan. Perlu berbulan-bulan sampai benar-benar tidak takut dengan lingkungan manusia. Dengan demikian, burung yang ngeriwik terus sebenarnya adalah burung yang tidak sehat secara mental, atau mentalnya masih tertekan, dalam hal ini oleh lingkungan yang sama sekali asing bagi dia.

= Burung memasuki masa mabung. Burung mabung biasanya hanya ngeriwik-ngeriwik atau bahkan hanya diam sama sekali. Cek saja kalau burung Anda tiba-tiba tidak gacor, ada kemungkinan memasuki masa mabung. Ada bulu-bulu halus mulai berjatuhan.

= Burung habis mabung, biasanya juga cuma ngeriwik. Dia tidak mau gacor sebagaimana ketika bekum mabung. Hal itu disebabkan, masa rekondisi pasca mabung memang memerlukan waktu sekitar 1-2 bulan. Tentu hal ini tidak berlaku untuk burung-burung tertentu, yang bahkan dalam kondisi mabung masih tetap gacor. Artinya, secara umum, burung yang baru saja mabung sebenarnya adalah burung yang tidak atau belum sehat secara fisik. Untuk mempercepat kesehatannya pulih, pastikan saja kecukupan nutrisinya.

= Burung yang kalah setelah diadu, biasanya juga hanya ngeriwik-ngeriwik terus tidak mau lagi gacor. Kalau hal itu terjadi pada burung Anda, maka burung Anda perlu dikarantina. Sampai kapan? Kadang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk memulihkannya, atau biasanya setelah melewati lagi masa mabung. Selama perawatan, Anda jugta perlu memperhatikan kecukupan pakan dan gizinya.

2. Burung hanya gacor pada waktu tertentu.
=
Ada burung tertentu yang hanya gacor pada pagi hari sementara sisa waktu selanjutnya hanya ngeriwik, atau gacor hanya malam hari, dan sebagainya. Hal itu biasanya berlaku pada burung-burung yang sebenarnya sudah tidak takut lingkungan tetapi belum fit secara fisik, dan bisa juga karena tidak atau belum birahi sepenuhnya. Burung yang birahi, biasanya gacor sepanjang hari. Tentu dalam hal ini Anda harus mengusahakan bagaimana agar burung tersebut bisa birahi.

= Burung-burung muda juga punya kebiasaan hanya gacor pada waktu tertentu. Dengan demikian, ini hanya masalah waktu yang menuntut Anda untuk bersabar.

3. Burung hanya gacor di tempat tertentu.
=
Burung yang hanya gacor di rumah tetapi tidak di arena lomba biasanya disebabkan oleh kondisi tidak fit atau bisa juga karena tidak terbiasa diadu dalam keramaian. Dengan demikian, perlu dilihat dan dikondisikan fisiknya sehingga benar-benar fit dan sementara itu juga dilatih secara rutin tetapi terukur kalau Anda memang pengin punya burung yang mau dan terbiasa gacor di arena lomba atau di keramaian.

= Burung yang hanya gacor di arena lomba tetapi tidak gacor di rumah. Burung seperti ini biasanya disebabkan oleh kondisi kurang birahi. Dalam kondisi seperti itu, burung hanya birahi ketika dirangsang oleh datangnya “musuh” atau “pesaing” yakni burung lain. Semetara kalau di rumah, di mana tidak ada musuh, dia tidak bersemangat untuk bersuara. Tingkatkan birahinya, itu salah satu kuncinya.

Namun demikian, ada juga burung yang memang sudah punya karakter seperti itu, yakni hanya mau bunyi kalau ada lawannya. Kalau sudah berbicara mengenai karakter, maka tidak ada obat apapun yang manjur.

Yang pasti, dalam kondisi seperti apa burung Anda saat ini, Anda tetap perlu membaca artikel  Rahasia Burung Jawara dan Hormon testosteron pemicu revolusi perawatan burung kicauan.

Oke? Salam!

Dikutip dari : http://www.omkicau.com

Tips Om Safrudin, memaster anakan cucakrowo ropel sejak umur 45 hari

Posted by Dudung Abdul Muslim ⋅ 13/11/2012 pukul 13:50 ⋅ Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed Under  anakan cucakrowo, burung cucakrowo, memaster cucakrowo ropel, suara ropel

Ropel adalah kualifikasi tertinggi dari kualitas suara cucakrowo (CR). Banyak CR mania yang mendamba agar burungnya bisa memiliki suara panjang, bergulung-gulung, seakan tidak berjarak (tanpa celah/slah) antara irama yang satu dan irama berikutnya, serta memiliki volume besar dan keras. Cucakrowo ropel dapat diperoleh melalui program pemasteran sejak umur 45 hari, sebagaimana dilakukan Om Safrudin, salah seorang penangkar CR terkemuka di Jakarta.

Safrudin Farm merupakan salah satu penangkaran modern cucakrowo di Indonesia. Lokasi penangkaran di daerah Tapos, Kabupaten Bogor. Tetapi untuk menjumpai H Safrudin, Anda bisa datang ke showroom cucakrowonya di Jl Salam 1/21 RT 008/RW 06, Kel. Sukabumi Utara, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

 

MEMASTER ANAKAN CUCAKROWO MULAI UMUR 45 HARI

Pensiunan pegawai PLN DKI Jakarta itu tidak pelit untuk berbagi ilmu. Kali ini, Om Safrudin akan berbagi tips bagaimana mencetak anakan cucakrowo ropel melalui program pemasteran. Sebagian tips ini dapat Anda modifikasi sendiri sesuai dengan situasi-kondisi di rumah masing-masing.

Idealnya, kata Om Safrudin, anakan CR yang akan dimaster berasal dari induk yang memiliki suara ropel pula. Meski demikian, dia pernah menerapkannya pada anakan CR engkel dan berhasil. Itu berarti suara ropel bisa dimunculkan melalui program pemasteran berkesinambungan, dan harus dimulai sejak dini.

Umur 45 hari atau 1,5 bulan merupakan saat yang tepat untuk memaster anakan cucakrowo. Dalam hal ini, Om Safrudin akan memindahkan sangkar anakan CR ke ruangan khusus untuk pemasteran. Disebut khusus, karena ruangan ini harus steril dari suara indukan cucakrowo, terutama yang suaranya engkel.

“Kalau bisa ditempatkan dengan sesama piyikan yang lain, tetapi jangan dengan indukannya, apalagi jika suaranya bukan ropel. Ini yang sudah saya buktikan, di mana semua anakan yang dimaster jadi semua,” kata Om Safrudin.

CD cucakrowo ropel sebagai master

Proses pemasterannya relatif mudah, karena ia hanya menggunakan CD suara cucakrowo ropel sebagai masternya. Banyak kok yang menjual CD master seperti ini, misalnya SmartMastering. Kunci utamanya adalah kesabaran dan ketelatenan, karena anakan cucakrowo setiap hari harus didengarkan CD master selama 7-8 jam.

Jika hal itu dilakukan terus-menerus, pada umur 5-6 bulan (terkadang bisa sampai 9 bulan), cucakrowo muda sudah bisa menirukan masternya tersebut.

Tips ini bisa digunakan untuk CR mania, baik sekadar memelihara, sering mengikuti lomba, maupun para penangkar yang ingin menjual indukan cucakrowo ropel. Harga indukan cucakrowo ropel saat ini cukup mahal. Bahkan di masa awal memulai usaha penangkarannya, Om Safrudin harus membeli seekor CR ropel dengan harga mulai dari Rp 55 juta hingga Rp 67,5 juta.

Ropel kelas lomba

Khusus untuk yang sering mengikuti lomba, saya teringat dengan pesan Om Hananto Prasetyo. “Untuk kelas lomba, cucakrowo punya pakem tersendiri, yaitu burung gacor (rajin berkicau) dapat dikalahkan burung bersuara ropel, meski suaranya hanya menggulung satu-dua kali. Jika ropelnya keluar saat lomba, suara burung-burung yang lain pasti akan tertutup,” kata Kicau Mania Legendaris Tahun 2000 tersebut.

Hanya saja, cucakrowo ropel jangan terlalu sering dilombakan, karena suaranya bisa berubah jadi engkel. Mengapa? Sebab ada kemungkinan burung yang mengikuti lomba bersuara engkel dan semi-ropel. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas suara CR ropel, karena burung ini memang memiliki kemampuan cepat sekali meniru suara-suara di sekitarnya.

Jika suara ropel berganti menjadi engkel panjang, mau tidak mau kita harus melakukan pemasteran ulang dengan CD master cucakrowo ropel agar performa suaranya kembali normal.
Salam sukses kicaumania, salam sukses dari Om Kicau. (*)

Dikutip dari : http://www.omkicau.com

Melacak kegagalan telur burung yang tidak menetas

Posted by Dudung Abdul Muslim ⋅ 30/11/2012 pukul 15:38 ⋅ 1 Komentar

Beberapa penangkar burung, khususnya pemula, kerap mengalami persoalan dengan usahanya. Kasus yang dialami tentu beragam. Kali ini saya ingin mengambil salah satu kasus, yaitu induk betina yang sering gagal menetaskan telur-telurnya. Ayo, kita lacak beberapa faktor kegagalan tersebut.

Kalau telur tidak menetas sesuai dengan jadwal seharusnya (14 hari), coba tunggu sampai hari berikutnya. Tetapi kalau tetap tidak menetas, Anda harus berbulat tekad: pecahkan telur untuk memperkaya ilmu di bidang reproduksi burung.

Bagi yang ingin menangkar, tetapi belum sempat melakukannya, semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Sebagian materi ini juga berlaku atau bisa diterapkan untuk jenis burung berkicau lainnya.

Ketika Anda memecahkan telur yang tidak menetas, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

  1. Ada embrio (bakal piyik), tetapi sudah mati di dalam telur.
  2. Tidak ada embrio di dalam telur, tetapi berbau.
  3. Tidak ada embrio di dalam telur, tetapi tidak berbau.

Baiklah kita bedah satu persatu dari ketiga kemungkinan di atas. Jika ada embrio tetapi sudah mati di dalam telur, sehingga tidak mungkin menetas, maka penyebabnya adalah embrio tidak memperoleh kecukupan gizi, terutama vitamin, yang diperlukan untuk pertumbuhannya.

 

Embrio (bakal piyik) di dalam telur mulai hari kelima penetasan hingga menjelang menetas. Jika embrio mati, maka telur tidak akan pernah menetas. Kalau telur dipecah, baunya busuk sekali. (Foto: diolah dari avianweb.com)

 

Embrio yang mati di dalam telur sebelum menetas.
(foto: avianweb.com)

Kemungkinan kedua, tidak ada embrio di dalam telur, tetapi berbau. Jadi, ketika telur dipecah, isinya hanya cairan yang berbau. Cairan yang berbau ini sebenarnya mengindikasikan bahwa di dalam telur sebenarnya sudah ada embrio, tetapi mati di saat masih sangat muda. Biasanya kematian terjadi pada masa 3-5 hari sejak telur dierami.

Jika tidak ada embrio tetapi tidak berbau, atau kemungkinan ketiga, itu menunjukkan telur yang dierami adalah telur infertil, yaitu telur yang sama sekali tidak mengandung sel benih. Sel benih atau disebut discus germinalis itu menempel di permukaan kuning telur (yolk).

 

Penyebab telur infertil

Telur infertil disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa jadi karena pejantannya belum siap kawin, atau umurnya kalah tua dari induk betina. Masalah umur burung sulit diketahui oleh penangkar pemula, terutama jika tidak ada catatan (recording) mengenai kapan burung itu menetas.

Kalau Anda membeli induk dari penangkar, coba tanyakan berapa umurnya. Penangkar yang profesional mestinya mempunyai database mengenai burung-burung yang ada dalam kandang penangkarannya, termasuk burung-burung yang siap dijual.

Kalau Anda tetap tidak memperoleh data mengenai umur burung, cobalah periksa sisik-sisik di kakinya. Apabila warnanya belum terlalu solid, dan terlihat seperti basah, berarti burung masih muda alias belum mencapai dewasa kelamin.

Solusinya mesti mengganti burung jantan tersebut dengan pejantan baru yang umurnya lebih tua, meski Anda harus memulai lagi proses penjodohan. Bagaimana cara menjodohkan murai batu, silakan cek artikel ini (lihat bagian pemilihan indukan dan penjodohan).  Kedua pasangan harus sama-sama mencapai dewasa kelamin, dan memiliki birahi tinggi.

Faktor lain penyebab telur infertil adalah salah satu induk, atau kedua induk, tidak mempunyai birahi tinggi sebagaimana burung dewasa pada umumnya. Akibatnya, burung seperti berjodoh tetapi sebenarnya mereka hanya berteman dan tidak pernah kawin.

Hal ini umumnya karena nutrisi (zat gizi) yang dikonsumsi burung dari pakan yang kita berikan belum memenuhi kebutuhan standar calon indukan. Mungkin jumlah (porsinya) sudah ideal, tetapi belum tentu kandungan gizi di dalam pakan itu sudah mencukupi.

Coba lakukan treatment dengan memberikan vitamin dalam pakannya, terutama vitamin A, B, dan E yang sangat dibutuhkan untuk pembibitan.

Jika sudah berjodoh, tetapi tidak mau kawin, treatment ini dapat dilakukan dengan memisahkan dulu kedua induk. Singkirkan pula wadah sarangnya. Selama menjalani terapi, usahakan kedua burung tidak bertemu muka dulu.

Anda akan melihat bagaimana perubahan perilaku burung jantan dan betina. Jika terlihat lebih aktif dan agresif, mulailah dengan proses penjodohan ulang. Apabila sudah berjodoh, burung jantan menjadi jauh lebih trengginas. Demikian pula dengan betina yang tidak ogah-ogahan lagi saat hendak dikawini pasangannya.

Jika perlu, pangkas bulu-bulu di sekitar kloaka

burung jantan, sebagaimana burung jantan pada umumnya, tidak memiliki penis untuk mengawini betina. Saat kawin, burung jantan hanya menempelkan kloakanya ke kloaka betina. Pada saat itulah sperma pejantan yang mengandung sel sperma (semen) masuk ke saluran reproduksi betina.

Sel sperma bisa memancar dengan baik apabila kloaka dari kedua induk bisa saling menempel dengan sangat rapat. Mungkinkah kloaka betina dan jantan ketika kawin tidak menempel rapat? Sangat mungkin, terutama jika terlalu banyak bulu di daerah sekitar kloaka burung jantan, atau burung betina, apalagi pada keduanya.

Cobalah periksa kloaka dari kedua induk yang hendak atau sudah dijodohkan. Jika bulu-bulu di daerah itu terlalu banyak, silakan pangkas hati-hati menggunakan gunting kecil.

Mengatasi problem hormonal induk betina

Dalam beberapa kasus, ada induk betina yang beberapa kali berganti pasangan, tapi tetap tidak bisa menetaskan telur-telurnya. Itu berarti ada yang tak beres pada organ reproduksinya atau faktor hormonal..

Saya hanya bisa menyarankan, sekiranya harus diganti dengan indukan yang baru, belilah burung betina di tempat penangkaran (bird farm), bukan hasil dari tangkapan alam yang justru membuat Anda butuh waktu lebih lama lagi untuk membiasakan burung dengan kehidupan di kandang penangkaran.

Semoga bermanfaat.

Salam sukses untuk Anda, salam sukses dari Om Kicau.

 

Dikutip dari : http://www.omkicau.com